Mirisnya, saat ini masih ada negeri Muslim yang justru berada di satu kubu dengan penjajah. Sekalipun negeri itu tidak diperangi secara fisik, sejatinya mereka sedang diperangi secara pemikiran dan ideologi.
Oleh:
Jumrah Ummu Asiah
POROSNARASI.COM – Gejolak perang Iran melawan AS dan Israel membuka tabir kekuatan Iran yang amat memukau. Iran, sebagai salah satu negeri Muslim, telah menunjukkan jati diri yang sebenarnya kepada dunia. Bagaimana tidak, kekuatan Iran berhasil membuat AS-Israel ketar-ketir dalam menghadapi perang 40 hari terakhir.
Iran memiliki keunggulan atas Israel dalam hal jumlah personel militer yang lebih besar (sekitar 3,5 kali lipat), luas wilayah geografis yang signifikan, serta pengembangan arsenal drone dan rudal balistik murah yang intensif. Selain itu, Iran didukung oleh jaringan “poros perlawanan” regional yang menjadikannya unggul dalam strategi perang asimetris dan daya tahan jangka panjang (bbc.com, 12/08/2024).
Pemerintah Iran mendeklarasikan kemenangan perang atas Amerika Serikat (AS) dan Israel usai gencatan senjata disepakati pada Rabu (8/4/2026). Dewan Keamanan Nasional Iran mengklaim “kemenangan bersejarah” setelah perang selama 40 hari tersebut (kompas.tv, 08/04/2026).
Klaim kemenangan ini agaknya membuktikan bahwa tanda-tanda keunggulan Iran atas AS dan Israel memang nyata. Namun, kaum Muslimin tidak boleh berhenti di situ saja atau bereuforia berlebihan, mengingat AS dan Israel bisa saja berlaku licik dan bermain di balik layar.
Umat Islam semestinya menyadari bahwa jika satu negeri Muslim saja sudah menampakkan kekuatannya, apalagi jika seluruh dunia Islam bersatu. Hal ini tentu akan menciptakan kekuatan umat Islam yang tidak terkalahkan oleh pihak mana pun. Hal itu telah terbukti saat umat Islam berjaya dalam naungan Khilafah selama 13 abad lamanya.
Tak bisa dimungkiri, sekalipun Iran menang atas musuh, negeri-negeri Muslim yang kini masih terjajah tidak dapat dibebaskan tanpa adanya kekuatan global yang lebih besar. Mirisnya, saat ini masih ada negeri Muslim yang justru berada di satu kubu dengan penjajah. Sekalipun negeri itu tidak diperangi secara fisik, sejatinya mereka sedang diperangi secara pemikiran dan ideologi.
Banyak negeri Muslim hari ini yang sumber daya alamnya dikeruk, aturannya dibuat sesuai pesanan asing, serta terdampak gejolak pemikiran asing yang merusak tatanan kehidupan generasi muda, salah satunya di Indonesia. Indonesia telah bergabung dengan lembaga perdamaian yang diprakarsai oleh Trump, yaitu Board of Peace, yang menuai banyak kontra di berbagai kalangan. Langkah ini dinilai membuat Indonesia semakin dikungkung oleh penjajahan modern dan sangat merugikan posisi Indonesia sebagai negara kaya dengan jumlah penduduk yang besar.
Sebagai contoh, adanya perjanjian dagang yang menguntungkan Amerika Serikat dapat mengikat kedaulatan negeri ini dalam mengurusi urusannya sendiri. Oleh karena itu, hegemoni global ini tidak boleh dibiarkan terus berkembang di dunia Islam. Penjajahan harus dihentikan hingga ke akarnya.
Umat Islam harus bersatu untuk membangun kekuatan besar guna menghadapi kapitalisme global. Dengan persatuan tersebut, bukan hanya satu negeri Islam yang terselamatkan, melainkan seluruh negeri Islam di dunia yang saat ini tengah terjajah dan dibelenggu oleh kekuatan penjajah. Sudah saatnya umat Islam membentuk kepemimpinan umum dalam naungan Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah.
Wallahu a’lam bish-shawab.[]

COMMENTS