Ramadan di Persimpangan: Ibadah atau Sekadar Ritual?

HomePoros Nusantara

Ramadan di Persimpangan: Ibadah atau Sekadar Ritual?

“Ini membuat puasa tampak seperti sesuatu yang remeh, yang bisa dipilih atau ditinggalkan sesuka hati, layaknya memilih pakaian,” ujar Ustaz Ismail.

Langitkan Tanggung Jawab Ukhuwah di Malam Nisfu Sya’ban
Perjalanan Menuju Gerbang Ramadan: Menundukkan Ego, Membasuh Jiwa

POROSNARASI.COM, POROS NUSANTARA – Belakangan ini, perdebatan mengenai makna ibadah puasa di bulan Ramadan kembali mencuat. Sebuah pernyataan yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa ungkapan “Hormatilah orang yang berpuasa” kini berubah menjadi “Hormatilah orang yang tidak berpuasa”. Menanggapi hal ini, Ustaz Ismail Yusanto dalam kanal Youtube-nya UIY Official, Rabu (12/3/2025), menilai perubahan tersebut sebagai bentuk kemunduran luar biasa dalam nilai-nilai keislaman.

Ini membuat puasa tampak seperti sesuatu yang remeh, yang bisa dipilih atau ditinggalkan sesuka hati, layaknya memilih pakaian,” ujar Ustaz Ismail.

Menurutnya, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan perjuangan dan jihad. Sejarah mencatat berbagai peristiwa penting terjadi di bulan suci ini, seperti Perang Badar, Penaklukan Makkah, dan Perang Ain Jalut. Sayangnya, semangat perjuangan itu kian memudar di tengah umat Islam saat ini.

Hilangnya nuansa jihad di bulan Ramadan berpangkal pada menurunnya pemahaman umat terhadap Islam, termasuk terhadap substansi ibadah itu sendiri,” tambahnya.

Ibadah Hanya Menjadi Ritual Semata?

Dalam pemaparannya, Ustaz Ismail menyoroti bagaimana ibadah Ramadan kini lebih sering dipandang hanya sebatas ritual tanpa dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Islam merupakan risalah yang mengatur seluruh aspek kehidupan, bukan hanya ibadah mahdhah seperti puasa dan salat.

Ibadah seharusnya melahirkan kekuatan ruhiyah yang mendorong seorang muslim untuk bertindak atas dasar keimanan. Ketika kekuatan ini hadir, maka kendati secara fisik seseorang melemah karena berpuasa, ia tetap memiliki semangat perjuangan yang tinggi,” jelasnya.

Namun, ia menyoroti fenomena yang terjadi di Gaza sebagai contoh nyata bahwa semangat jihad di bulan Ramadan tidak lagi membangkitkan solidaritas umat Islam secara luas.

Di bulan Ramadan, Gaza masih terus diserang oleh entitas Zionis, tetapi umat Islam seakan tidak tergugah untuk bergerak. Ini adalah bukti kemunduran umat,” tegasnya.

Peran Pemimpin dalam Menghidupkan Nilai Islam

Salah satu faktor yang disebut sebagai penyebab lemahnya pemahaman umat terhadap Islam adalah absennya kepemimpinan yang mampu merangkai ibadah dengan aspek kehidupan lainnya.

Dulu, khalifah yang mengarahkan umat bahwa ibadah bukan hanya urusan individu, tetapi juga berkaitan dengan perjuangan Islam secara kolektif. Sekarang, tidak ada pemimpin yang melakukan hal itu,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia juga mengkritik standar ganda yang terjadi di tengah umat, terutama di kalangan pemimpin yang menunjukkan kesalehan pribadi tetapi tetap menjalankan kebijakan yang tidak berpihak pada Islam.

Ada pemimpin yang berpuasa, tapi tetap korupsi. Ada yang memperingati Nuzulul Quran di istana, tetapi ajaran Al-Qurannya diabaikan. Bahkan, orang yang memperjuangkannya justru dikriminalisasi. Ini paradoks,” katanya.

Solusi: Dakwah untuk Menegakkan Kehidupan Islam

Untuk mengatasi permasalahan ini, Ustaz Ismail menegaskan bahwa umat Islam harus kembali kepada dakwah yang berorientasi pada tegaknya kehidupan Islam secara menyeluruh.

Dakwah harus diarahkan untuk mengembalikan pemahaman Islam yang benar, dari akidah hingga syariah, agar ibadah tidak hanya bersifat ritual tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial, politik, dan ekonomi,” pungkasnya.

Dengan demikian, ia mengajak seluruh umat Islam untuk kembali menjadikan Ramadan sebagai bulan perjuangan, bukan sekadar bulan ibadah seremonial belaka.[]UF

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: