Peristiwa ini mengungkap wajah asli kapitalisme global—sistem yang mengutamakan kekuasaan politik dan kepentingan ekonomi sebagai tujuan utama. Selama penjajahan menghasilkan keuntungan dan agresor didukung secara finansial maupun strategis, maka keadilan akan selalu disingkirkan.
Oleh: Anita Humayroh (Pegiat Literasi)
POROSNARASI.COM – Penderitaan yang terus-menerus dialami oleh rakyat Gaza menjadi bukti konkret gagalnya sistem global dalam menjaga kedamaian dan menjamin keselamatan umat manusia. Di saat kekerasan bersenjata terus menggempur wilayah tersebut, tanggapan komunitas internasional justru lemah, ambigu, bahkan nyaris tak bersuara. Hukum internasional yang kerap diagungkan sebagai penjaga hak asasi manusia, ternyata tak lebih dari semboyan kosong yang tak mampu memberikan perlindungan. Berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa telah dikeluarkan, namun semuanya gagal meredam kebrutalan yang terus berlangsung di Gaza.
Dalam dua hari berturut-turut, militer Israel menggencarkan serangan udara masif ke Khan Younis, bagian selatan Gaza. Menurut laporan dari Al Jazeera Hospital, serangan mencapai lebih dari 30 kali hanya dalam waktu satu jam. Wilayah utara Gaza pun ikut menjadi sasaran. Serangan ini menyebabkan Rumah Sakit Nasser hancur dan memakan korban sedikitnya 144 warga Palestina gugur hanya dalam sehari akibat serangan tersebut. (nu.or.id, 19 Mei 2025)
Peristiwa ini mengungkap wajah asli kapitalisme global—sistem yang mengutamakan kekuasaan politik dan kepentingan ekonomi sebagai tujuan utama. Selama penjajahan menghasilkan keuntungan dan agresor didukung secara finansial maupun strategis, maka keadilan akan selalu disingkirkan.
Amerika Serikat, sebagai pemimpin global, menunjukkan keberpihakan total kepada penjajah Zionis. Bantuan keuangan, pasokan senjata canggih, serta perlindungan diplomatik terus mengalir dari Washington ke Tel Aviv. Padahal dunia menyaksikan langsung pembantaian warga sipil, penghancuran rumah sakit, dan kematian anak-anak. Alih-alih mengecam pelaku, Amerika justru menjadi pelindung utama dari aksi brutal tersebut. Ini mempertegas bahwa dalam sistem kapitalisme, nilai-nilai kemanusiaan rela dikorbankan demi kepentingan geopolitik dan aliansi ekonomi.
Sejak awal, sistem Kapitalisme ini tidak ditujukan untuk menciptakan perdamaian bagi makhluk yang hidup dibawahnya. Sistem ini hanya menguntungkan segelintir elite penguasa. Maka tak heran jika pembantaian secara terang-terangan justru dibiarkan bahkan dibenarkan. Kenyataan ini menuntut kita untuk mencari sistem alternatif yang benar-benar mampu menegakkan keadilan, dan sistem itu adalah Islam.
Kritik atas Solusi Palsu Dunia Barat
Komplotan negara Barat yang selama ini tampil seolah-bak super hero sebagai penjaga perdamaian dunia pada kenyataannya, mereka justru membuka jalan bagi terciptanya ketidakadilan dan penjajahan. Dialog demi dialog yang digagas tidak sama sekali berpihak kepada penduduk Gaza dan jauh dari kata netral, kata penjajahan disamarkan sebagai konflik dua belah pihak. Solusi dua negara yang mereka ciptakan bukanlah penyelesaian sejati, namun hanya sebuah taktik untuk menunda datangnya kehancuran Palestina. Barat meminta para korban untuk menahan diri, sementara agresor dilenggangkan untuk tetap melanjutkan kekejamannya.
Lembaga internasional seperti PBB pun tidak lebih dari alat kepentingan politik negara-negara besar. Resolusi yang dihasilkan pada akhirnya hanya sebagai formalitas tanpa ada keberanian untuk diterapkan. Ketika agresi dilakukan oleh negara tertentu, dunia cepat merespons dengan kutukan. Namun saat penduduk Gaza dibombardir selama berbulan-bulan, tidak ada satupun sanksi yang dijatuhkan, tidak ada pemutusan hubungan, bahkan tidak ada tindakan nyata. Dunia memilih diam, karena sistem global yang mereka anut bukan dibangun atas dasar keadilan, melainkan keuntungan.
Islam: Solusi Alternatif yang Menyeluruh
Islam hadir dengan sistem aturan hidup yang bersumber langsung dari Sang Khalik, bukan dari akal manusia yang terbatas. Dalam pandangan Islam, negara bertanggung jawab penuh secara syar’i untuk melindungi jiwa, kehormatan, dan tanah umat tanpa kompromi. Wilayah yang dijajah tidak untuk dinegosiasikan, melainkan wajib dibebaskan.
Negara yang menerapkan sistem Islam tidak berhenti pada kecaman lisan atau diskusi diplomatik, melainkan akan mengerahkan kekuatan militer untuk membela umat yang tertindas. Islam mengajarkan bahwa kehormatan seorang Muslim lebih berharga dari seluruh isi dunia. Dalam sejarahnya, Islam telah terbukti sebagai pembela bagi kaum tertindas, bukan penonton pasif.
Islam tidak mengenal standar ganda. Dalam sistem Islam umat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah mendapatkan posisi mulia dan jauh dari segala bentuk penjajahan, baik secara militer, ekonomi, maupun ideologi. Nilai ini takkan pernah ditemukan dalam sistem manapun, termasuk sistem buatan manusia yang berlaku saat ini.
Penutup
Gaza bukan hanya sekadar wilayah konflik, melainkan simbol kehormatan umat yang tengah dikoyak dan representasi nyata dari dunia yang dikuasai sistem tanpa nurani. Selama kapitalisme serta aturan bawaannya masih mendominasi kekuasaan dunia, penderitaan serupa akan terus terjadi—di Palestina, Suriah, Uyghur, dan berbagai penjuru lainnya.
Sudah saatnya kita tak lagi bergantung pada sistem dunia yang terus berpihak kepada penjajah. Saatnya umat Islam untuk bangkit, bersatu, dan kembali pada sistem kehidupan yang diturunkan oleh Allah SWT. Hanya dengan sistem Islam yang menerapkan syariat secara menyeluruh, umat akan memiliki pelindung sejati—kepemimpinan global yang menjadikan keadilan sebagai prinsip utama, bukan sekadar retorika.
Sudah cukup umat ini ditinabobokan oleh solusi palsu dan janji semu. Kini saatnya kita menyerukan dengan lantang bahwa hanya Islam yang mampu menghentikan penderitaan Gaza dan menyelamatkan umat manusia dari ketertindasan. Dalam perjuangan menegakkan sistem Islam, kita juga tengah menjaga kehormatan umat, menjemput barisan kemenangan, dan menggapai ridha Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Illustration by Google
__________________

COMMENTS