Gen Z Kesulitan Mendapatkan Pekerjaan, Di Mana Peran Negara?

HomePoros Opini

Gen Z Kesulitan Mendapatkan Pekerjaan, Di Mana Peran Negara?

Dalam sistem ekonomi kapitalistik, pengelolaan sumber daya alam (SDA) cenderung diserahkan kepada pihak asing maupun swasta. Akibatnya, hasil pengelolaan tersebut tidak sepenuhnya dinikmati oleh rakyat secara merata.

Cita-Cita Kemerdekaan dan Harapan untuk Indonesia
Kemerdekaan Hakiki Mungkinkah Terjadi?
Kemerdekaan dan Paradoks Kesejahteraan Masyarakat Bekasi

Oleh: Aan Daryani (Pegiat Literasi)

POROSNARASI.COM – Generasi Z merupakan kelompok usia muda yang berada dalam rentang 15 hingga 24 tahun, lahir antara tahun 1997 sampai 2012. Badan Pusat Statistik (BPS) mengategorikan pengangguran dari kalangan ini sebagai hopeless of job, yaitu individu yang merasa kehilangan harapan untuk memperoleh pekerjaan. Masalah ini mengakibatkan banyak dari mereka hidup dalam harapan palsu dan ketidakpastian, dihantui rasa takut terhadap masa depan, serta kehilangan gairah untuk menggapai kesuksesan.

Kesulitan Gen Z dalam memperoleh pekerjaan bukanlah hal baru. Bahkan media internasional pun menyoroti fenomena ini. Contohnya, Channel News Asia (CNA) dari Singapura dan Al Jazeera dari Timur Tengah turut menyoroti peliknya situasi generasi muda Indonesia yang terdampak gejolak ekonomi. Tingkat pengangguran usia 15–24 tahun di Indonesia, menurut Al Jazeera sangatlah tinggi. Lebih dari 44 juta jiwa atau sebanding dengan 16 persen dari total populasi pada usia tersebut.

Apa Penyebab Gen Z Sulit Mendapatkan Pekerjaan?

Ada dua penyebab utama mengapa banyak Gen Z kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Pertama adalah faktor internal, yang berkaitan dengan diri Gen Z sendiri. Menurut Bappenas, banyak dari mereka mengambil jurusan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga kompetensi yang dimiliki tidak terserap oleh pasar kerja.

Kedua, faktor eksternal berupa ketidakseimbangan antara jumlah lowongan kerja yang tersedia dengan jumlah pencari kerja yang terus meningkat. Saat ini, jumlah pelamar pekerjaan enam kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan jumlah lowongan yang tersedia. Pertumbuhan kesempatan kerja pun tidak sejalan dengan pertambahan jumlah pencari kerja setiap tahunnya. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa Indonesia memiliki tingkat pengangguran tertinggi di Asia Tenggara, dengan 5,2% warga menganggur. Dari angka tersebut, lebih dari 50 persen berasal dari Gen Z (BPS, 2024).

Negara Gagal Menjawab Tantangan

Tak dapat dipungkiri, faktor-faktor tersebut tidak dapat dilepaskan dari sistem pengelolaan ekonomi yang hanya berlandaskan pada untung rugi, buah dari penerapan ekonomi ala kapitalis. Dalam sistem batil ini, pertumbuhan ekonomi menjadi fokus utama dan tujuan dari perekonomian. Solusi instan yang diambil atas masalah pengangguran ini seringkali diarahkan pada peningkatan investasi. Namun kenyataannya, meski investasi meningkat, angka pengangguran tetap tinggi. Ini adalah jawaban telak, bahwa investasi bukanlah “final solution” dalam kasus ini.

Dalam sistem ekonomi kapitalistik, pengelolaan sumber daya alam (SDA) cenderung diserahkan kepada pihak asing maupun swasta. Akibatnya, hasil pengelolaan tersebut tidak sepenuhnya dinikmati oleh rakyat secara merata.

Pandangan Islam dalam Menangani Pengangguran

  1. Islam meletakkan tanggung jawab penciptaan lapangan kerja pada negara. Hal ini bersandar pada hadis Rasulullah saw. yang menyatakan bahwa pemimpin adalah pengatur dan pelindung bagi rakyatnya (HR Bukhari, 844).
  2. Islam memiliki aturan kepemilikan yang tegas. Dalam Islam, SDA harus dikelola negara dan tidak boleh dimiliki oleh swasta, apalagi asing. Dengan pengelolaan mandiri, negara dapat memperoleh pendapatan yang cukup untuk membiayai pembangunan tanpa bergantung pada utang atau investasi asing. Selain itu, eksplorasi SDA membutuhkan banyak tenaga kerja, yang otomatis membuka banyak lapangan pekerjaan.
  3. Islam juga menekankan pentingnya pendidikan berkualitas dan merata. Pendidikan menjadi modal penting bagi masyarakat untuk bersaing di dunia kerja. Dengan pendidikan yang memadai, masalah rendahnya kompetensi atau ijazah dapat teratasi.
  4. Islam memberikan jaminan kesejahteraan bagi seluruh warga negara dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi kaum adam demi menopang tugas dan tanggung jawab mereka sebagai kepala rumah tangga, termasuk bagi mereka yang mengalami sakit atau cacat, agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Inilah Islam dengan seluruh elemen kesempurnaan yang dimilikinya memastikan bahwa tidak ada satupun masyarakat dibawah naungannya mengalami ketidakadilan. Daulah Islam akan menciptakan pemenuhan hajjatul ‘udowwiyah bagi setiap individu dengan aturan yang bersumber langsung dari Sang Pencipta, yakni Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Illustration by Google

__________________

Disclaimer: POROSNARASI.COM adalah wadah untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua penulis bertanggung jawab penuh atas isi dari tulisan yang dibuat dan dipublished di POROSNARASI.COM. Penulis dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum Syara’ dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: