Cita-Cita Kemerdekaan dan Harapan untuk Indonesia

HomePoros Opini

Cita-Cita Kemerdekaan dan Harapan untuk Indonesia

Mengingat masalah yang menimpa negeri ini hampir semua lini mengalami sakit. Maka pandangan terhadap masalahnya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja. Ada kegagalan secara sistemik yang telah berlangsung lama. Mulai dari kerusakan moral remaja, kesejahteraan rakyat yang belum merata, kriminalitas yang terus memuncak sampai utang negara yang kian membengkak.

PHK Massal, Kapitalisme Terbukti Gagal
Kemerdekaan dan Paradoks Kesejahteraan Masyarakat Bekasi
Gen Z Kesulitan Mendapatkan Pekerjaan, Di Mana Peran Negara?

Oleh: Jumratul Sakdiah, S.Pd.

POROSNARASI.COM – Menjelang HUT RI ramai pengibaran bendera merah putih di berbagai tempat. Aksi ini menunjukkan perwakilan atas harapan rakyat untuk Indonesia yang lebih baik kedepannya. Karena penderitaan rakyat pasca kemerdekaan belum kunjung selesai. Terlihat dari aturan yang dijalankan acap kali tak berpihak kepada rakyat. Tentunya hal ini menjadi refleksi kemerdekaan yang harus dipertimbangkan.

Jangan sampai peringatan kemerdekaan Indonesia yang sebentar lagi digelar hanya agenda tahunan saja. Namun pada kenyataannya rakyat masih belum sejahtera. Hak hidup mereka masih belum terjamin dan kekayaan alam negeri ini pun masih saja dijarah. Di sisi lain rakyat harus membayar pajak saat kebutuhan hidup makin sulit, harga bahan pokok kian melangit dan lapangan pekerjaan yang semakin sempit. Sehingga wajar, bermunculan persoalan dimana-mana. Mulai dari rakyat yang tak patuh dan negara yang tak hadir membersamai mereka dalam mengurusi kehidupannya.

Oleh sebab itu, cita-cita kemerdekaan yang diharapkan rakyat tampaknya belum sesuai dengan harapan. Rakyat menginginkan ketenangan dan jaminan kesejahteraan di setiap waktu. Bukan hanya sekadar bantuan yang dibutuhkan rakyat, namun jaminan masa depan yang jauh dari berbagai persoalan.

Karena pastinya masyarakat enggan dan tidak mau diatur oleh kebijakan yang semena-mena. Untuk itu, negara hendaknya terus melakukan evaluasi untuk kebaikan bersama. Sehingga hal yang sangat efektif jika negara memberi kebebasan kepada rakyat untuk mengkritisi penguasa saat hak-hak mereka tidak terpenuhi atau mereka merasa dizalimi . Sebagaimana Khalifah Umar pada masa kekhilafahan Islam yang membenarkan komentar seorang perempuan atas kebijakannya yang tak sesuai dengan Islam yakni dalam perkara penetapan mahar. Saat itu, Umar pun mengubah kebijakannya saat itu juga tanpa menampakkan keegoisannya sebagai pemimpin.

Pada hakikatnya, jalannya proses pemerintahan harus bergandengan dengan evaluasi mendalam untuk mencari solusi terbaik dari semua masalah. Berakibat fatal jika kebijakan zalim terus dibiarkan tanpa dikritisi, karena lagi-lagi rakyat yang kan menjadi korbannya. Tentu kita tidak menginginkan penderitaan rakyat semakin bertambah. Karena itu, agar keluar dari semua persoalan negeri ini hendaknya mencari akar masalahnya bukan sekadar solusi semu yang amat menjemukan.

Mengingat masalah yang menimpa negeri ini hampir semua lini mengalami sakit. Maka pandangan terhadap masalahnya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja. Ada kegagalan secara sistemik yang telah berlangsung lama. Mulai dari kerusakan moral remaja, kesejahteraan rakyat yang belum merata, kriminalitas yang terus memuncak sampai utang negara yang kian membengkak.

Akar masalahnya bukan di rezim dan pemimpinnya saja. Tetapi ini problem tata kelola yang masih berpihak pada ide-ide yang jauh dari nilai Islam. Pengelolaan yang berbasis paham kapitalisme menjadikan negara akan condong kepada para kapitalis. Akhirnya hak-hak rakyat dipertaruhkan. Kekayaan alam yang harusnya dikelola oleh negara untuk dibagikan kepada rakyat malah ditawarkan kepada asing lewat jalan investasi. Rakyat hanya dapat remah-remahnya saja. Dan bukan hanya itu, alam negeri ini pun harus menanggung akibatnya. Tak sedikit dari hasil pengerukan tambang, terjadi kerusakan dimana-mana. Lihat saja Pulau Raja Ampat yang kini tak harmoni lagi dan PT Freeport di Papua yang telah berlangsung lama. Tapi, masyarakat Papua sampai sekarang belum makmur padahal mereka tinggal di lumbung emas, tetapi mereka tak bisa menikmati hasilnya.

Miris, sudah saatnya rakyat melek terhadap semua ini. Rakyat semestinya sadar bahwa selagi negeri ini diatur dengan aturan selain Islam, maka masalah akan terus berdatangan. Dan cita-cita kemerdekaan akan jauh dari harapan. Negara sejatinya belum berdaulat selagi terus bergantung kepada asing lewat kerjasama dengan mendatangkan investor. Karena investasi hanya menjadi jalan hilangnya satu persatu kekayaan alam Indonesia yang amat melimpah.

Padahal jika tata kelola yang disandarkan kepada Islam, pengelolaan negara hendaknya merdeka dari campur tangan asing. Sehingga negara akan leluasa untuk memperoleh sumber Baitul mal tanpa harus memungut pajak dari rakyat. Karena sejatinya negeri kaum muslimin adalah negeri yang sangat kaya yang telah Allah janjikan. Jadi, mustahil mereka kelaparan dan kekurangan jika senantiasa bersandar kepada aturan dari Sang pencipta yakni Allah SWT.

Menjadikan Allah sebagai satu-satunya pengatur dalam semua urusan manusia adalah kemerdekaan yang sebenarnya. Sehingga cita-cita kemerdekaan akan mudah diraih dan dipertahankan. Harapan Indonesia untuk menjadi negeri yang lebih baik hanya bisa tercapai saat aturan Allah dijalankan dengan sempurna melepaskan diri dari belenggu penjajah dengan mengganti aturan hidup serta tata kelola negara yang berasal dari selain Islam. Kapitalisme demokrasi adalah sistem negara yang telah usang dan tak layak dipertahankan. Maka, kembali kepada tata kelola pemerintahan Islam adalah solusi terbaik. Islam adalah agama politik yang memiliki seperangkat aturan untuk mengurusi semua hidup manusia termasuk bernegara. Allah SWT sebagai pencipta manusia menurunkan risalah Islam kepada Rasulullah Saw. untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Agar risalah tadi benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya bukan hanya sekadar dibaca tetapi dipahami serta diamalkan semua isinya.

Al-Qur’an telah menjelaskan semuanya. Manusia bisa sejahtera hanya saat ia kembali kepada aturan Rabbnya. Yakni Allah SWT. Maka, rahmat untuk semesta akan diturunkan dan berkah akan bercucuran dari segala arah.

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ۝٩٦

Artinya: Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan (TQS. Al-A’raf: 96). Wallahu a’lam bisshawwab.[]

Illustration by Google

__________________

Disclaimer: POROSNARASI.COM adalah wadah untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua penulis bertanggung jawab penuh atas isi dari tulisan yang dibuat dan dipublished di POROSNARASI.COM. Penulis dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum Syara’ dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: