Hari ini, kurban terbesar yang dituntut dari umat adalah mengorbankan apa-apa yang selama ini mengekang kebangkitan mereka.
Oleh:
Nusaibah Ummu Imarah (Ibu dari Para Pembebas Baitul Maqdis)
POROSNARASI.COM — Idul Adha kembali datang. Masjid dipenuhi takbir, rumah-rumah disemarakkan aroma daging, dan dunia Islam terselimuti kegembiraan atas syiar pengorbanan. Namun, jauh di sana, di tanah para nabi, Baitul Maqdis masih merintih di bawah bayang penjajahan. Gaza masih hancur, dan darah anak-anak Palestina belum kering dari jalanan. Lantas, pertanyaannya, apa kurban kita tahun ini?
Umat Islam telah lama menjadikan Idul Adha sebagai momentum spiritual dan sosial. Tapi sejarah dan nash syariah mengajarkan bahwa kurban yang sejati bukan sekadar kambing dan sapi. Kurban adalah tentang keberanian meninggalkan sesuatu yang kita cintai demi kebenaran yang lebih besar.
Hari ini, kurban terbesar yang dituntut dari umat adalah mengorbankan apa-apa yang selama ini mengekang kebangkitan mereka. Berikut lima kurban strategis yang harus dilakukan umat Islam jika sungguh ingin membebaskan Baitul Maqdis:
1. Mengorbankan Kenyamanan Duniawi
Umat ini terlalu banyak disibukkan dengan pencapaian pribadi, karier individualistik, dan gaya hidup hedonistik. Kita lebih nyaman menjadi penonton tragedi Palestina dari layar ponsel daripada menjadi pelaku perubahan. Padahal, perubahan besar dalam sejarah lahir dari mereka yang bersedia keluar dari zona nyaman.
2. Mengorbankan Nasionalisme Sempit
Persatuan umat terhalang oleh batas-batas palsu peninggalan kolonial. Selama kita mengutamakan identitas kebangsaan di atas ukhuwah Islamiyah global, selama itu pula kita lemah. Kita butuh satu kesadaran politik yang mengutamakan ummatan wahidah—satu umat, satu kepemimpinan, satu perjuangan.
3. Mengorbankan Kepercayaan pada Jalan Diplomasi Barat
Sudah puluhan tahun diplomasi digelar, resolusi PBB diterbitkan, konferensi perdamaian diselenggarakan—namun Palestina tetap terjajah. Baitul Maqdis tetap dirampas. Umat Islam harus sadar bahwa tak ada keadilan di panggung politik buatan penjajah. Satu-satunya jalan adalah membangun kekuatan Islam yang independen dan berani menantang status quo.
4. Mengorbankan Kecintaan pada Jalan Tengah
Dibimbing untuk menjadi moderat, umat ini kehilangan arah dan keberanian. Kita takut menyebut sistem Islam secara utuh. Kita takut memperjuangkan Khilafah. Padahal para penjajah tak pernah moderat saat merampas tanah kita. Sudah saatnya kita berani menyebut kebenaran dengan nama sebenarnya.
5. Mengorbankan Ketakutan pada Perubahan Sistemik
Banyak dari kita sadar bahwa kapitalisme global dan sekularisme politik telah gagal. Tapi kita takut bicara sistem alternatif. Takut dituduh radikal, takut kehilangan status quo. Tapi tanpa keberanian mengganti sistem yang menindas ini, Baitul Maqdis hanya akan terus menjadi simbol ratapan.
Idul Adha adalah momentum. Takbir kita hari ini bisa menjadi gema kebangkitan atau gema kehampaan. Jika umat Islam sungguh mencintai Palestina, maka mereka harus mulai memikirkan bentuk pengorbanan yang hakiki. Baitul Maqdis tidak akan bebas oleh donasi, doa, atau boikot semata. Ia butuh sistem Islam. Ia butuh Khilafah. Ia butuh umat yang rela berkorban untuk mengembalikan kejayaan yang dirampas.
Sudahkah kita berkurban untuk kemenangan Islam? Ataukah kita hanya menyembelih hewan, sementara sistem kufur tetap memerintah negeri-negeri Muslim? Allahu Akbar. Inilah waktunya Idul Adha menjadi titik balik. Bukan sekadar ritual, tapi awal dari kebangkitan politik umat Islam.[]
Illustration by Google
__________________

COMMENTS